(GORONTALO) – Warga Desa Sipayo mulai mendapatkan dampak buruk dari aktivitas tambang yang ada di Kecamatan Dengilo, Kab. Pohuwato, Provinsi Gorontalo.
Salah satunya Gafar Djauhari. Dalam postingannya di akun Facebooknya, Gafar mempertanyakan peran Pemda Pohuwato dalam menyikapi aktivitas pertambangan liar yang ada di Kabupaten Pohuwato. Selasa (27/10/2020).
Setelah dihubungi melalui via telepon, ia mengatakan, penyebab air keruh yang ada Desa Sipayo karena aktivitas tambang yang hingga saat ini belum mendapatkan penanganan serius dari Pemda setempat, akibatnya warga sudah tidak bisa mencuci pakaian di sungai.
“Air keruh itu gara-gara pertambangan di atas, itu sudah lumpur bukan lagi air, tadi sudah saya foto tidak ada satu orangpun yang mencuci pakaian di sungai, kasihan ibu-ibu sudah tidak bisa mencuci pakaian di sungai,” kata Gafar.
Tidak hanya itu, pertambangan liar juga telah berdampak pada warga yang memelihara sapi. Pasalnya sapi yang biasa minum air sungai sudah tidak mau minum air sungai karena sudah tercampur lumpur.
“Sejak air keruh, orang sudah tidak lagi mencuci pakaian di sungai, sedangkan sapi saja sudah tidak mau minum air sungai,” jelas Gafar.
Menanggapi hal tersebut, Otan Mamu saat dihubungi mengatakan, pihaknya akan menelusuri penyebab air keruh, karena menurutnya selain pengaruh tambang, air keruh juga bisa diakibatkan dari curah hujan.
“Nanti akan dibandingkan, mana air keruh pengaruh tambang dan mana air keruh karena banjir. Tadi saya juga lewat dan berhenti sebentar di jembatan itu, tapi tidak sempat turun. Saya lihat airnya biasa,” kata Otan Mamu.
Ia menjelaskan, dari hasil rapat Anggota DPRD dengan para penambang, pengakuan para penambang, mereka belum menutup seluruh mata air yang ada di lokasi tambang. (feb)











Komentar